SINTANG,KALBAR, Timurnews.id Udara di desa-desa dan kota masih dipenuhi dengan aroma harum dan segar, menjadi momen istimewa bagi masyarakat lokal dan wisatawan. Masa ini sudah berlangsung hampir dua bulan musim buah berlangsung.
Salah satu penyebab aroma harum itu adalah merebaknya buah durian dimana-mana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diantara varietas durian yang dinantikan adalah durian lokal dari hutan. Pohonnya tidak sengaja dibudidayakan, hampir semuanya tumbuh alami. Meski tumbuh alami, pohon-pohon itu tetap subur. Buahnya manis, idola para pecintanya.
“Musim durian di Sintang dan sekitarnya itu dimulai pada bulan November hingga Desember, bahkan bulan Januari di tahun berikutnya. Durian yang disukai adalah dari hutan”, jelas Sopian salah seorang pemuda Sintang.
Di saat musim buah, pedagang dadakan pun bermunculan di mana-mana. Di Tugu BI, Pasar Sungai Durian, dan sepanjang jalan semuanya dipenuhi pedagang durian. Bahkan di rumah-rumah warga pun banyak tersedia durian dan buah lainnya. Hal itu menjadi pemandangan menarik.
Harga durian beragam, namun harganya perbuah murah dan terjangkau, mulai dari Rp. 10,000, 20,000, hingga 25,000. Bahkan kini sudah mulai ada yang dijual dengan harga Rp. 5,000. Pecinta durian tidak perlu kawatir.
Musim buah seperti ini, juga dimanfaatkan warga berburu durian. Hal itu menjadi aktivitas yang unik dan menyenangkan.
Tradisi berburu durian di malam hari menjadi daya tarik tersendiri. Warga rela bermalam di kebun atau hutan untuk menunggu durian jatuh dari pohonnya, yang dianggap lebih lezat dan bernilai. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal masih menjaga tradisi dan kedekatan dengan alam.
“Tradisi ini tidak hanya menjadi momen untuk menikmati buah durian yang lezat, tetapi juga cara untuk mempererat kebersamaan keluarga dan masyarakat setempat”, ungkap beberapa pecinta durian.
“Banyak buah durian berasal dari hutan, meskipun bentuknya kecil kecil, tapi manis. Masyarakat kampung banyak yang panen durian dengan cara tidak memetik, tapi nunggu jatuh dari pohonnya”, terang Sopian.
Seperti yang dilakukan warga Sungai Apin, kecamatan Seberuang, kabupaten Kapuas Hulu, Amri dan Abdul Nasir rela bermalam di gubuk dalam hutan untuk menunggu durian jatuh.
“Ya seru pak, kami bermalam di hutan, meskipun banyak nyamuk dan dingin. Kami menunggu durian jatuh. Karena jika tidak ditunggu, bisa jadi saat durian jatuh diambil orang. Rasanya lebih lezat”, tuturnya dengan gembira.
Diceritakannya, malam itu yang berburu dalam waktu yang sama ada banyak pemuda juga.kami bertemu banyak orang di hutan yang juga sedang berburu durian”, imbuh Abdul Nasir.
Menurut warga, pecinta durian lebih berminat dengan durian yang jatuh, meskipun harganya terkadang bisa lebih mahal.Musim durian juga bertepatan dengan liburan sekolah dan perayaan Natal-Tahun Baru (Nataru) memberikan suasana lebih spesial di kabupaten Sintang. Ini tidak hanya menjadi ajang wisata kuliner lokal, tetapi juga daya tarik yang bisa meningkatkan potensi pariwisata di Sintang.
Aktivitas sederhana seperti ini mencerminkan kekayaan budaya dan keindahan lokal Kalimantan Barat, khususnya Sintang, yang layak dijadikan destinasi wisata alternatif bagi pencinta durian.
Kaperwil
















